ceritaku


 

Langkah kaki sudah lama menghilang. Hari mulai gelap, dan seluruh gedung sekolah tenggelam dalam sunyi. Hanya lampu lorong yang sesekali berkedip, memantulkan bayangan di dinding kusam.

Di salah satu lorong panjang, ubin-ubin lantai saling berbisik.

“Masih ingat tumpahan cat bulan lalu?” kata ubin ketiga dari pintu masuk.
“Tentu. Warnanya masih tertinggal di sela-sela nat,” jawab ubin di seberangnya.

Di dekat tangga, pagar besi tua mengeluh pelan. Engselnya sudah berderit, lelah menopang tubuh sendiri setiap hari.

Sementara itu, jam dinding yang menggantung di atas pintu kelas terus berdetak, meski tak ada yang mendengarkannya.

“Detik demi detik aku hitung,” gumam jam dalam hati, “tapi tak ada yang memperhatikanku, kecuali saat mereka terlambat.”

Lonceng sekolah yang tergantung di atas aula ikut menyimak. Ia menyimpan kenangan setiap bunyi yang pernah ia dengungkan. Ujian, jam istirahat, pulang. Semua adalah irama masa lalu yang terus berputar.

Namun malam ini berbeda. Angin masuk lewat jendela yang tak tertutup rapat. Ia mengelus lembar-lembar kertas di dalam laci guru, memainkan tirai tipis yang menggantung lemas.

“Esok hari akan datang lagi,” bisik angin. “Mereka akan kembali. Tapi malam ini... milik kita.”

Lorong itu pun tetap berdiri tegak — tak bicara, tapi menyimpan ribuan cerita yang tidak pernah didengar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAMPU DARI GELAS PLASTIK

Malam Terakhir Di Rumah Darmo